PERENCANAAN DAN STRATEGI PEMBELAJARAN SD/MI (PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI)
PERENCANAAN DAN STRATEGI PEMBELAJARAN SD/MI
(PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI)
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Perencanaan Dan Strategi Pembelajaran SD/MI
Dosen Pengampu : Muhammad Jalil, M.Pd.
Disusun Oleh:
Kelompok 6
1. Silfiya Fatmawati (1510310008)
2. Siti Muthmainnah (1510310013)
3. Dwi Syarifatunnisa’ (1510310016)
4. Atik Nurul Hidayah (1510310021)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pembaharuan pendidikan dan pembelajaran selalu dilaksanakan dari waktu ke waktu dan tidak pernah berhenti. Pendidikan dan pembelajaran berbasis kompetensi merupakan merupakan contoh hasil perubahan yang dimaksud dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.
Istilah belajar dan pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan. Pembelajaran sesungguhnya merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa belajar. Untuk itu harus dipahami bagaimana siswa memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses memperoleh pengetahuan, maka guru akan dapat menentukan model pembelajaran yang tepat bagi siswanya.
Kompetensi adalah suatu pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan atau kapabilitas yang dimilki oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga mewarnai perilaku kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Artinya tanpa pengetahuan dan sikap tidak mungkin muncul suatu kompetensi tertentu.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal, yang artinya siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami konsep dari informasi. Akibatnya ketika siswa lulus dari sekolah, mereka hanya pintar secara teoritis tetapi lemah dalam aplikasinya.
Pembelajaran berbasis kompetensi merupakan suatu model pembelajaran dimana perencanaan, pelaksanaan, dan penilaiannya mengacu kepada penguasaan kompetensi. Oleh karena itu pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan agar segala upaya yang dilakukan dalam pembelajaran benar-benar mengacu dan mengarahkan peserta didik untuk menguasai kompetensi yang ditetapkan sehingga mereka tuntas dalam belajarnya. Selanjutnya, untuk lebih memahami mengenai pembelajaran berbasis kompetensi, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai hal tersebut.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi?
2. Bagaimana model-model pemebelajaran berbasis kompetensi?
3. Bagaimana implementasi dari model-model pembelajaran berbasis kompetensi?
Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami pengertian dan prinsip-prinsip yang dikaji dalam pembelajaran berbasis kompetensi
2. Untuk mengetahui model-model pembelajaran berbasis kompetensi
3. Untuk mengetahui dan memahami implementasi dari model-model pembelajaran berbasis kompetensi
Manfaat Penulisan
1. Supaya pembaca dapat memahami pengertian dan prinsip-prinsip yang dikaji dalam pembelajaran
berbasis kompetensi
2. Supaya pembaca mengetahui macam model-model pembelajaran berbasis kompetensi
3. Supaya pembaca mengetahui dan memahami implementasi dari model-model pembelajaran berbasis
kompetensi.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Pengertian Pembelajaran Berbasis Kompetens
Pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau siswa. Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono: adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru senbagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.
Sedangkan pengertian kompetensi menurut Finch dan Crunkilton: adalah kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, ketrampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Pernyataan tersebut dapat ditulis sebagai: “Competencies for vocational and technical education are those tasks, skills, attitudes, values, and appreciation that are deemed critical to successful employment”. Menurut definisi ini kompetensi memiliki abregat pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dapat mendukung keberhasilan dalam melakukan pekerjaan, dan untuk mencapai kompetensi lulusan diperlukan kurikulum.
Menurut Gracia-Barbero: menyebutkan bahwa kompetensi adalah kombinasi dari sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas professional. Sedangkan Docson memberikan definisi kompetensi, yaitu: “A competency is defined interms of what person is required to do (performance), under what conditions it is to be done (conditions) and how well it is to be done (standards)”. Pengertian dari pernyataan di atas menyatakan bahwa kompetensi didefinisikan bahwa seseorang diharuskan untuk melakukan suatu pekerjaan (kinerja), dimana hal tersebut harus dilakukan sesuai dengan kondisi yang telah ditentukan dan apa yang dikerjakan tersebut memnuhi ketentuan yang telah ditetapkan (standard).
Berdasarkan SK mendiknas nomor 045/U/2002, menyatakan bahwa kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu.
Jadi, dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran berbasis kompetensi adalah program pembelajaran di mana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh peserta didik, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai.
Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Menurut Wina Sanjaya terdapat sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran. Sehingga hal tersebut sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran berbasis kompetensi. Adapun prinsip-prinsip pembelajaran tersebut, diantaranya:
- Berpusat kepada siswa
- Belajar dengan melakukan
- Mengembangkan kemampuan sosial
- Mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah
- Pengembangan ketrampilan, pemecahan masalah
- Mengembangkan kreativitas siswa
- Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi
- Menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik
- Belajar sepanjang hayat
Sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran di atas, Wina Sanjaya menambahkan bahwa terdapat factor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran agar berlangsung secara efektif, yaitu sebagai berikut:
- Proses pembelajaran harus memberikan peluang kepada siswa agar mereka secara langsung dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Dengan demikian guru harus bertindak sebagai pengelola proses belajar, bukan bertindak sebagai sumber belajar.
- Guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan. Dengan demikian pembelajaran bukan hanya mendorong siswa untuk melakukan tindakan saja, akan tetapi menghayati berbagai tindakan yang telah dilakukannya. Hal ini sangat penting baik untuk pembentukan sikap maupun untuk mencermati berbagai kelemahan dan kekurangan atas segala tindakannya.
- Proses pembelajaran harus mempertimbangkan perbedaan individual. Hal ini didasarkan pada suatu asumsi bahwa tidak ada manusia sama baik dalam minat, bakat maupun kemampuannya. Pembelajaran harus memberikan kesempatan agar siswa dapat berkembang sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Dengan demikian siswa yang lambat tidak merasa tergusur oleh siswa yang cepat, sebaliknya siswa yang cepat tidak merasa terhambat oleh yang lambat belajar.
- Proses pembelajaran harus dapat memupuk kemandirian di samping kerjasama. Artinya guru dituntut mampu menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa dapat mandiri dan bekerja sama dengan orang lain.
- Proses pembelajaran harus terjadi dalam iklim yang kondusif baik iklim sosial maupun iklim psikologis. Siswa akan belajar dengan baik manakala terbebas dari berbagai tekanan baik tekanan sosial maupun tekanan psikologis. Melalui iklim belajar yang demikian diharapkan siswa akan berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
- Proses pembelajaran yang dikelola guru harus dapat mengembangkan krestivitas, rasa ingin tahu. Hal ini hanya mungkin terjadi manakala guru tidak menempatkan posisi siswa sebagai objek belajar, akan tetapi sebagai subjek belajar. Untuk itulah guru harus mendorong agar siswa aktif untuk belajar melalui proses mencari dan mengobservasi.
Dari penjelasan di atas dalam menyusun pembelajaran berbasis kompetensi harus memperhatikan 9 prinsip-prinsip pembelajaran seperti yang telah dijelaskan diatas. Selain itu terdapat factor-faktor yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran agar dapat berlangsung secara efektif.
Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Model Pembelajaran Inkuiri
Model pembelajaran inkuiri adalah salah satu cara belajar atau penelaahan yang bersifat mencari pemecahan permasalahan dengan cara kritis, analisis, dan ilmiah dengan menggunakan langkah-langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan karena didukung oleh data dan kenyataan. Schmidt, mengemukakan bahwa inkuiri adalah proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen guna mencari jawaban maupun memecahkan masalah terhadap pernyataan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis.Sedangkan menurut W. Gulo, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analitis, sehingga dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Dari beberapa pengertian inkuiri diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi melalui observasi atau eksperimen untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunkan kemampuan berpikir kritis dan logis.
Sasaran utama dari model pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan penguasaan pengetahuan, yang merupakan hasil dari pengolahan data atau informasi. Pada kegiatan ini, siswa dilibatkan secara aktif dalam proses mencari tahu agar mampu menginterpretasikan informasi, membedakan antara asumsi yang benar dan salah, dan memandang suatu kebenaran dan hubungannya dengan berbagai situasi. Jadi, siswa tidak hanya memiliki informasi, tetapi lebih jauh lagi, siswa menempatkan diri sebagai sainstis yang melakukan penelitian, berpikir dan merasakan lingkungan penelitian.
Depdiknas menyatakan, melalui model inkuiri, guru diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang menantang sehingga melahirkan interaksi antara gagasan yang sebelumnya diyakini siswa dengan bukti baru untuk mencapai pemahaman baru yang lebih sainstifik melsalui proses eksplorasi ataunpengujian gagasan baru. Adapun peranan guru disini adalah:
- Merencanakan pelajaran sehingga pelajaran terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki siswa.
- Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi siswa untuk memecahkan masalah.
- Memerhatikan cara penyajian, yaitu cara enaktif, ikonik, dan simbolik.
- Apabila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoretis,guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor.
Langkah-langkah/Sintaks dari model pembelajaran inkuiri meliputi:
- Orientasi
- Merumuskan masalah
- Merumuskan hipotesis
- Mengumpulkan data
- Menguji hipotesis
- Merumuskan kesimpulan
CTL merupakan suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya, dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan cultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan atau konteks kepermasalahan atau konteks lainnya.
Dalam CTL, proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalaminya bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa sebagaimana model pembelajaran konvensional atau metode ceramah. Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai slah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuan. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada member informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri, bukan dari ungkapan guru.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang di ajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa sekaligus mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan 7 komponen utama pembelajaran efektif yakni konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian sebenarnya. Adapun langkah-langkah dari model pembelajaran dengan CTL, yaitu:
- Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri serta mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan darinya.
- Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
- Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
- Ciptakan masyarakat belajar
- Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
- Lakukan refleksi akhir pertemuan
- Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Model Pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional, dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Senada dengan pengertian tersebut, Dr. Oemar Hamalik mendefinisikan CBSA sebagai suatu pendekatan yang menitikberatkan pada suatu keaktifan siswa, yang merupakan inti dari kegiatan belajar. Pada hakikatnya, keaktifan belajar terjadi dan terdapat pada semua perbuatan belajar, namun kadarnya yang berbeda; tergantung pada jenis kegiatannya, materi yang dipelajari, dan tujuan yang hendak dicapai.
Dalam CBSA, kegiatan belajar diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, memberikan prakasa/gagasan, menyusun rencana, dan lain-lain.
Sebagai konsep, CBSA adalah suatu proses kegiatan belajar-mengajar dengan siswa terlibat secara intelektual dan emosional. Sehingga, siswa betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Pengertian diatas menunjukkan bahwa CBSA menempatkan siswa sebagai inti dalam kegiatan belajar-mengajar, siswa dipandang sebagai objek dan subjek sekaligus.
Dalam pembelajaran aktif, baik guru dan siswa, mereka sama-sama mengambil peran yang penting. Dalam hal ini, guru sebagai pihak yang melakoni beberapa proses berikut:
- Merencanakan dan mendesain tahap scenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas
- Membuat strategi pembelajaran yang ingin dipakai
- Mencari keunikan siswa
- Menilai siswa dengan cara yang transparan dan adil, serta harus merupakan penilaian kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif dan skill (psikomotorik)
- Melakukan bermacam-macam penilaian, misalnya tes tertulis, performa (penampilan saat presentasi, diskusi, debat, dan lain-laian), serta penugasan atau proyek
- Serta membuat portofolio pekerjaan siswa.
Sementara itu, siswa menjadi pihak yang melakoni beberapa proses berikut:
- Menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir
- Melakukan riset sederhana
- Mempelajari ide-ide sekaligus konsep-konsep yang baru dan menantang
- Memecahkan masalah (problem solving)
- Belajar mengatur waktu dengan baik
- Melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok
- Mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action
- Melakukan interaksi sosial
- Melakukan berbagai kegiatan yang dilakukan secara berkelompok.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa model pembelajaran CBSA menuntut keterlibatan mental yang tinggi, sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam proses pembelajaran aktif, baik guru maupun siswa sama-sama meliliki peranan yang sangat penting dan memiliki tugasnya masing-masing dalam proses pembelajaran seperti yang telah disebutkan di atas.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran CBSA meliputi:
- Pemanasan
- Pengamatan (Observasi)
- Interpretasi dan Pengamatan
- Peramalan (Hipotesis)
- Aplikasi konsep
- Perencanaan penelitian
- Komunikasi
Implementasi dari Model-model Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri
Setelah memahami langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inkuiri penulis akan memberikan contoh pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPS di kelas dua dengan menggunakan model inkuir, adapun langka-langkahnya sebagai berikut:
- Tahap orientasi Pada tahap ini, guru: (a) Mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran. (b) Merangsang dan mengajak siswa untuk berfikir memecahkan masalah dengan menanyakan materi sebelumnya. (c) Guru menjelaskan topic, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa dalam menemukan masalah yang berkaitan dengan kerjasama di lingkungan tetangga. (d) Menjelaskan langkah-langkah strategi pembelajaran inkuiri yang diterapkan dalam pembelajaran. (e) Menjelaskan pentingnya kerjasama dengan tetangga.
- Tahap merumuskan masalah Siswa dengan bimbingan guru menentukan masalah yang berkaitan dengan kerjasama di lingkungan tetangga.
- Tahap menentukan hipotesis Siswa dengan bimbingan guru menyusun hipotesis atau dugaan sementara yang sesuai dengan rumusan masalah yang telah disusun sebelumnya.
- Tahap pengumpulan data Siswa dengan bimbingan guru melakukan pengumpulan data mengenai kerjasama di lingkungan tetangga dari dongeng, teks percakapan, wawancara dan mengamati gambar.
- Tahap menguji hipotesis Setelah data terkumpul, diadakan analisis dan dihubungkan dengan hipotesis. Siswa mengadakan pengujian hipotesis dengan logika deduksi dan mengembangkan hipotesis dengan implikasinya serta asumsi yang mendasarnya. Jika ada data yang relevan dengan hipotesis, maka hipotesia dapat diterima.
- Tahap merumuskan kesimpulan Tahap yang terakhir merumuskan kesimpulan. Setelah hipotesis terbukti diterima ataupun ditolak, siswa dengan bimbingan guru menyusun pernyataan terbaik sebagai jawaban atas masalah yang dibahas. Dalam menerapkan pembelajaran inkuiri perlu adanya tahap-tahap yang harus dilakukan dalam kegiatan pembelajaran seperti halnya yang telah dicontohkan di atas.
Implementasi Model Pembelajaran CTL
Untuk lebih jelasnya, berikut kami sajikan contoh penerapan CTL dalam pembelajaran Sejarah.
Adapun langkah-langkahnya, yaitu:
- Apersepsi guru menayangkan gambar pertumbuhan manusia sejak bayi sampai dewasa, disertai dengan peristiwa yang dialami oleh manusia tersebut, lalu menanyakan kepada siswa mengenai maksud dari gambar tersebut
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
- Guru menjelaskan sedikit mengenai generalisasi, periodesasi, dan kronologi sejarah.
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari pengertian generalisasi, periodesasi, dan kronologi sejarah dari berbagai sumber secara berkelompok, kemudian setiap kelompok mempresentasikan temuannya.
- Guru memperlihatkan contoh kronologi dari peristiwa-peristiwa bersejarah di Indonesia
- Tanya jawab tentang generalisasi, periodisasi, dan kronologi sejarah.
- Guru melakukan penilaian dengan cara member tugas kepada siswa untuk menyusun periodisasi hidup sejak lahir sampai saat ini dalam bentuk baris waktu pada selembar kertas.
- Guru bersama-sama dengan siswa melakukan refleksi materi yang telah dibahas.
- Menarik kesimpulan materi.
Agar dapat mengimplementasikan pembelajarn CTL diperlukan langkah-langkah yang sudah dijabarkan di atas. Sehingga pembelajaran dapat berjalan aktif, kreatif dan menyenangkan.
Implementasi Model Pembelajaran CBSA
Dalam menerapkan konsep pembelajaran dengan pendekatan CBSA, ada beberapa konsekuensi yang harus diterima. Menurut Gale, konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran berdasarkan siswa antara lain:
- Guru merupakan seorang pengelola dan perancang dari pengalaman belajar
- Guru dan siswa menerima peran kerjasama (partnership)
- Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakan
- Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat belajar
- Siswa dilibatkan dalam pembelajaran
- Tujuan ditulis secara jelas
- Semua tujuan diukur/ dites
Adapun contoh-contoh pembelajaran CBSA, yaitu sebagai berikut:
- Tabel perkalian, termasuk belajar reseptif yang menyajikan informasi untuk dihafalkan oleh siswa tanpa tuntutan bagi siswa untuk memahaminya.
- Penerapan formula (rumus) untuk pemecahan masalah, termasuk belajar dengan penemuan terbimbing yang menuntut siswa menghafalkan cara menerapakan suatu formula untuk memecahakan masalah.
- Pemecahan teka teki dengan coba-salah, termasuk belajar dengan penemuan mandiri yang kurang bermakna karena siswa menghafal tanpa pemahaman.
- Kerja laboratoris sekolah, termasuk belajar dengan penemuan terbimbing.
- Ceramah atau penyajian buku teks pada umumnya
- Penelitian atau hasil intelektual rutin pada umumnya, yang merupakan modus belajar dengan penemuan mandiri yang kebermaknaannya sama dengan ceramah.
- Klasifikasi keterhubungan antar konsep, yaitu modus belajar reseptif yang penuh kebermaknaan dan paling bermakna dibanding dengan modus belajar reseptif yang lain.
- Pembelajaran audio tutorial yang dirancang dengan baik, yang merupakan modus belajar dengan penemuan terbimbing yang paling bermakna dibandingkan dengan modus belajar penemuan terbimbing yang lain.
- Penelitian ilmiah, merupakan modus belajar dengan penemuan mandiri yang paling bermakna dibandingkan dengan modus belajar penemuan mandiri yang lain.
Dalam menerapkan model pembelejaran CBSA, perlu diketahui konsekuensi yang harus diterima oleh pendidik. Dan model pembelajaran CBSA ini dapat diterapkan di pelajaran, salah satunya yaitu di pelajaran matematika contoh seperti tabel perkalian dan penerapan rumus.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pembelajaran berbasis kompetensi adalah suatu model pembelajaran dimana perencanaan, pelaksanaan, dan penilaiannya mengacu pada penguasaan kompetensi. Pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan agar segala upaya yang dilakukan dalam pembelajaran benar-benar mengacu dan mengarahkan peserta didik untuk menguasai kompetensi yang telah ditetapkan sehingga mereka tuntas dalam belajarnya. Adapun prinsip-prinsip pembelajarannya, yaitu: (a) Berpusat kepada siswa, (b) Belajar dengan melakukan, (c) Mengembangkan kemampuan social, (d) Mengembangkan keingintahuan, (e) Imajinasi dan fitrah, (f) Pengembangan ketrampilan, (g) Pemecahan masalah, (h) Mengembangkan kreativitas siswa, (i) Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi, (j) Menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik, (k) Belajar sepanjang hayat.
Dalam pembelajaran berbasis kompetensi terdapat beberapa model pembelajaran, diantaranya yaitu: (a) Model pembelajaran inkuiri, (b) Model pembelajaran CTL, (c) Model pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).
Dalam setiap model pembelajarn pasti perlu adanya proses implementasi dari setiap model-model tersebut. Dalam hal ini pemakalah mengambil contoh penerapan model inkuiri pada mata pelajaran IPS kelas II pada bab kerjasama di lingkungan tetangga dengan berpedoman pada langkah-langkah pembelajaran inkuiri. Sedangkan untuk penerapan pembelajaran CTL pemakalah mengambil contoh penerapannya pada mata pelajaran sejarah dengan materi pengertian generalisasi, periodisasi, dan kronologi dengan mengikuti langkah-langkah model pembelajaran CTL. Adapun contoh penerapan model pembelajaran CBSA yaitu diantaranya tabel perkalian, pemecahan teka teki dengan coba-salah, penerapan formula (rumus) untuk pemecahan masalah, kerja laboratoris sekolah, Penelitian atau hasil intelektual rutin pada umumnya, penelitian ilmiah, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari Buku:
Barbero, Garcia. 1998. How to Develop Educational Programmes For Health Professionals. Copenhagen: Who Regional Office for Europe.
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Finch dan Crunkilton. 1979. Curricullum Development In Vocational Education. Boston: Allyn and Bacon Inc.
Hamalik, Oemar. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Putra, Sitiatava Rizema. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Yogjakarta: Diva Press.
Sabala, Syaiful. 2011. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan. tk: PT. IMTIMA.
Sumber dari Journal:
Mukaromah, Mar Atul. 2014. Skripsi: Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri Pada Tema Lingkungan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas II SDN PERUMNAS 3 Depok. Depok: Universitas Negeri Yogyakarta.
Hasibuan, M. Idrus. 2014.
Model Pembelajaran CTL. Vol. 2. No.1. Logaritma.
Komentar
Posting Komentar